Hukum Islam tentang Wanita Melahirkan di Bulan Suci Ramadan

Wanita adalah sosok yang diciptakan Allah untuk punya kemampuan sebagai ibu yaitu dengan mengandung dan melahirkan anak, wanita diberi anugerah oleh Allah berupa seorang calon bayi kapan saja sesuai kehendak Allah. Sering juga wanita melahirkan saat puasa di  bulan Ramadan ini dianggap anugerah yang lebih mulia tapi punya hutang puasa sebab sesudahnya mengalami masa nifas.

 

Hukum wanita melahirkan di bulan Ramadhan

Wanita yang melahirkan di bulan Ramadhan akan mengorbankan puasanya karena wanita yang melahirkan sesudahnya mengalami masa nifas dan harus menyusui bayinya. Firman Allah tentang wanita menyebutkan bahwa wanita tentu merasa berat kalau harus berpuasa, dimana proses melahirkan memerlukan begitu banyak tenaga, dan kekuatan juga memperoleh gizi bagus dan punya kondisi tubuh yang fit. Sedangkan kalau berpuasa kemungkinan tubuh akan terasa lemah.

 

Demikian juga dengan wanita nifas yang pasti tak boleh berpuasa serta wanita menyusui punya nafsu makan dan minum lebih tinggi, di mana wanita menyusui tidak boleh dalam keadaan lemah karena dapat berpengaruh pada keluarnya ASI, ini membuat wanita dalam kondisi ini boleh menunda puasa dan menggantinya di lain waktu.

 

Hukum ini adalah wujud kasih sayang Allah kepada wanita.

 

  1. Menurut Rasulullah

Hukum dan tips melahirkan dalam Islam untuk wanita di bulan Ramadan telah diatur sejak zaman Rasulullah, Islam merupakan agama terbaik yang sudah mengatur syarat serta manfaat hukum Islam dalam kehidupan dengan lengkap. Islam menyayangi wanita dan memahami setiap keadaan yang dialami, termasuk saat dalam kondisi melahirkan dan menyusui yang memang tidak sepantasnya bila dibebani beban berat seperti berpuasa. Wanita melahirkan di bulan Ramadan boleh tidak berpuasa tetapi tetap mengganti atau mengqadha nya di hari lain saat sudah sanggup.

  1. Kisah zaman Rasulullah

Aisyah pernah berkata tentang masa ketika haid dan diminta Rasulullah guna mengganti hutang puasa tanpa harus mengganti hutang salat, begitu juga jika pada ibu melahirkan di bulan Ramadan wajib mengganti hutang puasa. Tapi untuk yang melahirkan dan menyusui tetap wajib melaksanakan salat lima waktu kecuali untuk wanita nifas yang hukumnya sama dengan wanita haid. Yaitu mengganti hutang puasa tanpa wajib mengganti salat yang tidak dilaksanakan.

  1. Wanita yang lanjut menyusui di bulan Ramadan

Wanita yang melahirkan di bulan Ramadan selanjutnya mengalami masa nifas dan masa menyusui, di mana itu adalah masa penuh perjuangan bagi seorang ibu yang tidak hanya menghidupi dan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri tapi juga bagi kehidupan dan perkembangan kondisi bayi yang dilahirkan. Baik dan buruk keadaan kesehatan bayinya tergantung dari tindakan dan kasih sayang yang diberikan. Wanita tersebut diizinkan tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain, tapi tetap melaksanakan salat sesudah nifas selesai.

  1. Kesepakatan Ulama

Disebabkan banyaknya pertanyaan dari banyak pihak tentang hukum wanita melahirkan di bulan Ramadhan, kemudian dibentuk kesepakatan atau fatwa ulama yang dikumpulkan dari sumber syariat Yang jelas yaitu dari Alquran dan kisah-kisah dari beberapa hadis rasulullah dahulu. Wanita yang melahirkan disebut juga dengan wanita nifas, karena nifas secara bahasa maknanya adalah melahirkan. (Lisaanul ‘Arob 6/238, Ibnul Manzhur, An-Nihayah 5/95, Ibnul Atsir).

 

Sedangkan secara terminologi syariat nifas ialah darah yang keluar dari rahim karena sebab melahirkan (Risalah Fid Dimana at-Thobi’iyyah hal 51, Ibnu Utsaimin). Dari beberapa kesepakatan di atas bahwa hukum wanita melahirkan di bulan Ramadhan maka gugur kewajiban baginya untuk mengerjakan ibadah puasa karena berada dalam kondisi lemah dan tidak memungkinkan ditambah bebannya sebab dikhawatirkan menimbulkan bahaya bagi ibu hamil atau calon bayinya. Karena itu diberi keringanan untuk mengganti di hari lain dan tetap melaksanakan salat sesuai kemampuan.

  1. Waktu pembayaran hutang puasa

Saat wanita melahirkan di bulan Ramadan dan mempunyai hutang puasa, hutang puasa itu wajib segera dibayar saat kondisinya sudah mampu dan tidak diperkenankan menunda membayar hutang karena hal ini dapat menjadi dosa.

 

Sekian tentang hukum Islam yang membahas keberadaan wanita melahirkan di bulan suci Ramadan, begitu mulia Islam meninggikan derajat wanita dan memberikan kasih sayang lebih kepadanya. Semoga deretan informasi di atas bermanfaat bagi Anda yang membacanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.